Rabu, 01 Februari 2017

Ibu (Ingin Aku) Pulang*





Ibu (Ingin Aku) Pulang

Malam itu, sekitar jam sepuluh, ibu menelepon. Saat ibu bertanya kabar, aku menebak-nebak berita yang hendak ibu sampaikan. Aku dan ibu terbilang jarang bertelepon. Kami bertelepon bila ada berita penting saja.
Setelah kukatakan aku baik-baik saja, ibu menarik napas panjang. Aku diam menunggu setelah ibu mengatakan dia juga baik-baik saja. 
“Adikmu akan menikah.” Ibu yang memecah kebisuan kami. Pelan suara ibu. Seolah ibu perlu mengangkat ribuan kilo beban yang menindih tubuhnya.
Johan, adikku nomor tiga. Dua adikku yang lain, Tiarma dan Parlin, sudah menikah entah beberapa tahun lalu.
Mulutku tetap mengatub. Enam tahun lalu Johan resmi menjadi seorang aparat. Aku tidak tahu apa pangkatnya sekarang. Tepatnya, aku tidak paham tentang itu. Tidak sedikit uang ibu habiskan untuknya. Sepetak tanah di kampung terjual, sebagai penambah uang dariku yang ternyata tidak cukup. Padahal aku sudah menguras seluruh uang simpanan.
Tidak lama lagi, adikku yang tampan itu akan menikah.
“Kau masih di situ?”
“Iya, Inang[1].”
“Sebetulnya Inang kurang setuju Johan menikah secepat ini. Pihak perempuan tidak mau berlama-lama. Mereka memberi pilihan, secepatnya atau perempuan itu menikah dengan lelaki lain.”
Aku tidak berkata apa pun. Aku tidak ingin tahu, misalnya, anak perempuan siapa calon istri Johan. Atau siapa namanya, apa pekerjaannya, di mana rumahnya. Bahkan aku tidak ingin tahu, kapan tanggal pasti pernikahan itu.
Inang mau kau pulang.”
“Tak bisa, Inang. Pekerjaanku tak bisa kutinggal.”
Inang sudah bilang, tanggal pernikahan akan disesuaikan dengan waktumu.”
“Jangan begitu, Inang. Lakukan saja. Ada atau tidak ada aku di situ, tidak ada pengaruhnya. Parlin yang penting. Dia sebagai pengganti Amang[2]. Menemani Inang menghadapi semua kerabat.”
Aku dan ibu membiarkan sepi memeluk kami berdua. Aku ingin mengakhiri pembicaraan tapi tidak ingin menyakiti hati ibu. Mungkin masih banyak yang hendak ibu bicarakan denganku.
“Akan kukirim uang dari sini. Inang tenang saja.”
“Bukan itu, Amang![3]” Sahut ibu cepat. Jarang ibu memanggilku Amang, dan aku selalu suka dipanggil demikian. Aku merasa anak yang disayangi ibu. Anak yang tidak mengecewakan untuknya.
“Ada hal lain yang mengganggu pikiran Inang?”
Inang ingin kau pulang. Kau harus menemaniku di pesta itu.”
“Ada Parlin, Inang! Dia yang pantas.”
Bisu lagi. Sampai kemudian kudengar isak ibu dari seberang. Aku tidak bertanya mengapa ibu menangis karena aku sibuk memapah hatiku yang limbung. Aku mengerti tangisan ibu. Bukan sekali ini ibu menangis di telepon tanpa mengatakan mengapa ia menangis.
Ibu menangis saat mengabarkan Tiarma hendak menikah. Demikian juga ketika mengabarkan Parlin yang menikah. Aku lupa kejadian itu entah berapa tahun lalu. Sering aku tidak lagi peduli dengan tahun-tahun yang terus berjalan.
Isakan ibu kali ini terasa begitu menyayat. Lebih menyedihkan dari yang sudah-sudah.
“Anak baiknya kau, Amang. Kau bantu sekolah adik-adikmu. Lebih kau urus perut adik-adikmu daripada sekolahmu. Perhatian kau sama  inangmu ini. Kenapa nasibmu seperti ini?”
“Sudahlah, Inang.” Mulutku terasa jauh lebih berat. “Aku bahagia dengan hidupku ini. Tak usah Inang tangisi.”
Aku tahu ibu berusaha menahan ledakan tangisnya. Andai tak ada jarak memisah aku dan ibu, akan kulihat derasnya air mengalir dari kedua mata lelahnya. Pada saat itu, tidak bisa kujamin aku tidak turut menangis bersamanya.
Sekarang mataku memang tidak berair. Tapi hatiku sangat sedih. Aku sadari, kesendiriankulah sumber kesedihan ibu. Tidak menikahnya aku sampai sekarang serupa batu sebesar kepalan tangan dewasa menyesaki hati ibu.
Andai bisa memilih, pastilah ibu ingin aku yang menikah. Bukannya Johan. Umurku nyaris 42 tahun, sementara Johan masih 25 tahun. Aku juga ingin menikah. Sayangnya Tuhan belum menghendaki itu terjadi.
“Pulanglah!”
Kurasakan dingin mengelus kulit. Aku terakhir pulang sekitar tiga tahun lalu, dan ibu tidak pernah memintaku pulang. Saat Tiarma dan Parlin menikah, aku pun tidak pulang.  Hanya uang yang kukirim untuk ibu. Ibu pun tidak memintaku pulang.
Mengapa kali ini ibu tidak memahami perasaanku? Tidak mudah menghadiri pernikahan seorang adik sementara aku sendiri belum menikah pada usia yang amat matang. Aku tidak siap menjawab pertanyaan orang, juga membalas tatapan mereka padaku.
“Aku menunggumu. Kau dengar?”
***

Kepala bersandar dan mataku memejam saat pesawat terangkat ke udara. Aku tidak suka ketinggian, termasuk di dalam pesawat. Perjalanan dua jam lebih ini akan membuatku tegang. Pernah pesawat yang kunaiki berguncang hebat. Aku tidak bisa berbuat apapun selain memegang erat kedua tangan kursi. Pengalaman itu semakin menambah keteganganku menaiki pesawat. Kutebak, saat pesawat jatuh, aku tidak bisa berbuat apapun selain pasrah. Lain misal ketika kapal laut tenggalam, setidaknya aku masih bisa berlarian ke sana kemari, berusaha menyelamatkan diri.
Akhirnya kuputuskan pulang. Padahal sebenarnya aku hanya semacam penggembira saja di pesta pernikahan Johan nanti. Memang aku anak tertua ibu, tetapi aku tidak bisa menjadi pengganti bapak karena aku belum menikah. Bagi orang Batak, seseorang yang belum menikah tidak terhitung dalam adat. Jadi nanti, Parlin yang menggantikan posisi almarhum bapak.
Aku tidak ingin ibu semakin sedih. Itu sebab kuputuskan pulang. Aku juga harus  belajar menerima kenyataan, belum menikah di usia sekarang. Andai beberapa tahun ke depan masih sendiri, tidak mungkin aku terus menghindari orang lain.
Ibu tidak tahu aku pulang. Biarlah. Bukan niatku ingin buat kejutan. Keputusan ini yang sangat tiba-tiba. Entah kenapa subuh tadi dorongan pulang sangat mendesak. Kusiapkan ransel besar saat dorongan itu gagal kutahan. Pekerjaanku sebagai pedagang membuatku tidak repot-repot harus minta izin pada siapa pun. Aku hanya perlu menarik uang dari ATM, untuk berjaga-jaga di kampung tidak bisa kutarik.
Pesawat ini akan tiba di Kualanamu sekitar jam 1 siang. Untuk tiba di Pangururan, kabupaten Samosir, setidaknya lebih dari lima jam. Berarti aku akan tiba di rumah setelah matahari lelap di peraduan. Besok pernikahan Johan. Malam nanti rumah kami pasti  ramai. Kerabat dan tetangga akan datang ke rumah, mengantarkan tumpak[4].
Melihatku datang nanti, semoga kebahagiaan ibu sempurna. Karena deminya aku pulang.
Kursi yang kududuki tepat di samping jendela, namun tidak pernah mataku mengalih keluar. Kuusulkan bertukar posisi pada lelaki yang duduk di sebelahku sebab sedari tadi lehernya menjulur ke jendela. Ia mengangguk cepat sembari mengucap terima kasih.
Sekarang aku diapit remaja dan perempuan tua. Aku sedikit merasa lebih nyaman.
***

Usiaku belum mencapai dua puluh ketika  merantau ke Jakarta. Yang kumiliki hanya ijazah SMP, jadi ia tetap tersimpan dalam sebuah map di lemari kami. Saat memutuskan merantau, yang ada dipikiranku hanyalah mendapatkan uang sebanyak yang kumampu. Apa pun akan kukerjakan, asal halal. Uang itu akan kukirim ke kampung. Supaya beban ibu tidak terlampau berat.
Aku percaya pada ibu, ia mampu menghidupi ketiga adikku. Tapi aku ingin ibu bekerja tidak terlampau keras. Ibu sudah terlalu lelah membesarkan kami setelah bapak meninggal tiga bulan sebelum Johan lahir.
Maka itulah yang kulakukan di Jakarta. Apa pun kukerjakan. Apa pun. Asal halal. Uang-uang itu kukirim ke kampung. Beberapakali ibu bilang tidak usah mengirim karena kirimanku terdahulu masih ada. Aku tidak mengindahkannya sebab tahu ibu bohong. Aku tahu ladang-ladang tidak lagi menghasilkan. Bawang merah yang ditanam ibu hanya menghasilkan buah sebesar biji jagung. Batang-batang padi menguning karena hujan tidak pernah singgah di kampung kami.
Waktu terus merambat hingga batang usiaku makin kokoh. Tiarma telah menjadi perawat. Parlin sarjana Teknik kemudian menjadi pegawai negeri.  Tiarma dinikahi seorang polisi dan Parlin menikah dengan guru sekolah negeri. Sementara di Jakarta aku tetap sendiri. Keinginan menikah tidak lagi semenggebu ketika usiaku di ujung 20, atau di awal 30.
Setelah adik-adikku tidak lagi butuh sokongan, mereka seolah melupakan ada ceceran keringatku dalam kesuksesan mereka. Tidak terlalu masalah bagiku. Aku bahagia mendengar hidup mereka mapan, berbahagia bersama pasangan dan anak-anak mereka. Aku tidak mengharap balas jasa, karena tujuanku adalah membahagiakan ibu.
***

Jam enam sore saat aku menaiki kapal kecil di pelabuhan Ajibata, Parapat. Setelah mengarungi Danau Toba sekitar 45 menit, aku tiba di Tomok, Pulau Samosir. Dari sini, lebih satu jam aku berada di dalam sebuah angkutan ketika akhirnya tiba di Pangururan.
Malam benar-benar sempurna saat aku turun dari angkutan. Dadaku sesak berbagai sebab. Sekarang aku berada di tanah dan langit masa kecilku. Sebentar lagi aku akan berdiri di hadapan ibu, menatap wajahnya. Pasti wajah ibu kian disemaki keriput.
Aku melangkah pasti. Rumah kami tidak jauh  di depan. Hanya tinggal melintasi satu jalan kecil. Dari tempatku berada sekarang, bahkan seperti kulihat atap rumah kami. Kemudian tampaklah rumah yang terang. Pintu terbuka lebar. Beberapa orang duduk di luar. Seperti tebakanku, rumah kami pasti ramai malam ini.
Langkahku kian cepat. Lalu kusadari ada yang salah. Sesuatu yang berada di ruang tengah seperti merampas jantungku. Aku terlempar ke masa lalu. Saat seseorang menjemputku dari sekolah kemudian dihadapkan pada sosok bapak yang terbaring di ruang tengah rumah kami.
Kuterobos pintu yang terbuka. Kucari wajah ibu untuk bertanya, sosok siapa yang terbaring di tengah rumah kami ini. Hanya ada wajah Parlin, wajah istrinya, wajah Tiarma, wajah suaminya, wajah Johan, wajah perempuan yang tidak kukenal, wajah sepupuku, wajah tulang[5]ku, wajah bapauda[6]ku, wajah tetanggaku. Tak ada wajah ibu.
Tubuhku menegang.
“Gara-gara memikirkanmu, Inang jatuh di kamar mandi. Sekarang, sudah terlambat kau pulang.” Parlin menunjukku. Ia sangat marah.
Tiarma mangandung[7]. Meminta ibu membuka mata karena aku sudah pulang. Menyesalkan kenapa ibu terlalu memikirkanku.
Lututku menghantam lantai. Ingin kurengkuh tubuh ibu, membelai wajahnya. Berbisik di telinganya, sekarang aku sudah pulang. Aku ingin mengajak ibu kembali pada masa kecilku. Memohon pada ibu agar selamanya kami berada di sana.
Tetapi ibu tak dapat kurengkuh. Kurasakan tubuhku semakin jauh dari ibu. Bertambah jauh.
***
Binjai, 22 Oktober 2016



[1] Ibu. Bahasa Batak Toba
[2] Ayah. Bahasa Batak Toba
[3] Digunakan juga sebagai ungkapan sayang, bangga dan hormat kepada anak laki-laki.
[4] Uang sebagai bantuan mahar
[5] Saudara lelaki ibu
[6] Adik lelaki ayah
[7] Meratap sembari berbicara tentang yang diratapi

*Dimuat di Rubrik Rebana Harian Analisa Medan, 29 Januari 2017.
Rubrik ini terbit setiap hari Minggu. 
Ingin mengirim cerpen atau puisi ke rubrik Rebana? 
Ini emailnya: rajabatak@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar